
CIKAMPEK, ckpinfo.com – Pasca aksi unjuk rasa terkait kerusakan parah di jalur Pantura, Noval selaku perwakilan Humas PPK 1.1 Jawa Barat akhirnya buka suara kepada awak media mengenai penyebab rusaknya jalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
Menurutnya, kerusakan jalan Pantura disebabkan oleh beberapa faktor utama, di antaranya cuaca ekstrem, genangan air, serta tingginya volume kendaraan bermuatan lebih dan berdimensi berlebih yang setiap hari melintasi jalur tersebut. Ia menegaskan bahwa air merupakan musuh utama aspal, sehingga ketika hujan turun dan air menggenang, struktur aspal akan cepat mengalami kerusakan.
Meski sebelumnya tak berani berikan respons atas tuntutan massa aksi yang meminta penyelesaian perbaikan jalan hingga akhir Februari 2026, Noval menyampaikan kepada rekan-rekan media bahwa PPK 1.1 Jabar menargetkan perbaikan jalan berlubang dapat diselesaikan hingga akhir Februari.
Terkait desakan pemberlakuan jam operasional kendaraan besar, Noval mengaku hal tersebut tidak mudah diterapkan. Menurutnya, kebijakan tersebut memerlukan koordinasi lintas instansi, lintas kementerian, serta lintas pemerintahan.
Saat disinggung mengenai kualitas perbaikan jalan yang dinilai cepat rusak, Noval menjelaskan bahwa metode perbaikan jalan memiliki dua sifat, yakni permanen dan sementara. Untuk kondisi darurat, penanganan dilakukan melalui metode patching atau tambal sulam.
“Perbaikan jalan itu sifatnya ada yang permanen dan ada yang sementara. Kalau hanya patching, kita hanya mempertahankan kemantapan jalan dan meminimalisir kecelakaan,” ujar Noval.
Namun demikian, pernyataan tersebut menuai sorotan publik, mengingat metode tambal sulam dinilai tidak menyelesaikan akar persoalan dan kerusakan jalan kerap berulang. Masyarakat berharap adanya solusi jangka panjang agar jalur Pantura tidak lagi menjadi titik rawan kecelakaan dan korban jiwa.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!